
Bulan April identik dengan Hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Kartini seorang perempuan yang memiliki intelektualitas tinggi. Intelektual yang dimiliki Kartini menjadikan beliau seorang inspirator besar bagi perempuan masa kini. Kebebasan intelektual yang digalakkan Kartini mampu membuat gebrakan baru dalam menyetarakan hak-hak perempuan, serta membangun peran penting perempuan Indonesia dalam menggerakkan roda kehidupan di berbagai bidang termasuk di lingkungan universitas. Beberapa “Kartini Hebat” lahir dan tumbuh di kampus kerakyatan UGM. Siapa aja sih “Kartini Hebat” dari UGM yang dimaksud? Yuk kepoin postingan kami setiap Hari Kamis mulai bulan April-Juni di segmen “Kartini-kartini Hebat Kampus Kerakyatan”
Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes., Ph.D.
Sobatmuse, Kartini Hebat Kampus Kerakyatan yang akan kita bahas sekarang adalah Prof. drg. Ika Dewi Ana, M.Kes.,Ph.D. atau sering disapa ibu Ika. Beliau merupakan salah satu wanita inspiratif yang memiliki peran penting bagi dunia kedokteran gigi di Indonesia. Doktor lulusan Universitas Kyushu, Jepang ini memiliki segudang penghargaan di bidang kesehatan. Tidak dapat diragukan lagi kiprah beliau dapat dibuktikan melalui 4 paten yang sangat berpengaruh dalam dunia kedokteran gigi modern seperti graft tulang, spons hemostatis dan tiga yang lainnya berkenaan dengan pemanfaatan dengan sintesis karbonat apatit. Salah satu paten beliau saat ini sudah termasuk dalam e-katalog yang ada di BPJS.
Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adhisakti, M.Arch.
Sobat Muse, bulan April merupakan bulan yang istimewa. Banyak peristiwa dipengingati pada bulan ini. Selain Hari Kartini, ada juga World Heritage Day, yang diperingati pada 18 April.
Kartini kedua yang akan kita bahas adalah seorang kartini yang berkiprah dalam pelestarian Warisan Budaya. Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adhisakti, M.Arch. atau biasa disapa Ibu Sita merupakan dosen dan Kepala Center for Heritage Conservation, Departmen Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada. Beliau merupakan salah satu perempuan hebat yang menyumbangkan pemikirannya untuk pemugaran Candi Borobudur yang termasuk dalam World Heritage.
Tokoh yang pernah mendapat predikat Salah Satu Kartini abad XXI dari Majalah Gatra (2010) ini mendedikasikan nafas dan setiap langkahnya untuk pelestarian Warisan Budaya, yang disebutnya sebagai Pusaka. Penggagas Jogja Heritage Society ini tak pernah lelah apalagi bosan, mengajak banyak orang untuk melestarikan Pusaka Indonesia yang goal akhirnya ialah untuk kesejahteraan masyarakat.
Nah Sobat Muse, siapa sih yang tidak kenal Kartini Kampus Kerakyatan yang satu ini? Simak setiap kiprahnya yang sungguh menginspirasi. Ayo Sobat Muse, kenali, cintai, dan lestarikan warisan budaya yang ada di sekitar kita. Sobat Muse juga bisa datang ke Museum UGM untuk tahu lebih banyak tentang kiprah UGM dalam pemugaran Candi Borobudur!
Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D.
Halo Sobatmuse, Kartini inspiratif UGM kali ini menghadirkan sosok yang tentu cukup berpengaruh di Indonesia. Kita mengenal beliau sebagai Bu Rita, Rektor wanita pertama Universitas Gadjah Mada. Setelah menjabat sebagai rektor Universitas Gadjah Mada pada periode 2014-2016, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. dipercaya menjadi Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika.
Prestasi beliau dalam penanggulangan bencana alam tidak hanya terbatas pada taraf nasional namun juga internasional. Terbukti, Bu Rita menjadi satu-satunya orang Indonesia yang memperoleh penghargaan Leverhulme Professorship Award atas penelitian beliau tentang manajemen bencana alam longsor di Institute for Advance Study Bristol University, Inggris, tahun 2002. Tidak hanya itu, berturut-turut beliau mendapat penghargaan International Program on Landslide Award, pada World Landslide Forum kedua dan ketiga.
Saat menjabat menjadi Rektor UGM, Bu Rita dan timnya berhasil memperjuangkan Landslide Early Warning System (LEWS) atau Sistem Pemantauan dan Peringatan Dini Bencana Longsor buatan UGM sebagai rujukan dunia di sidang Organisasi Standard Internasional (ISO) tahun 2016. Prestasi ini sangat membanggakan Indonesia. Selain peringatan dini tanah longsor, saat ini di bawah kepemimpinan Bu Rita di BMKG, sistem early warning untuk tsunami di Indonesia dinyatakan sudah 90% andal dan sudah bisa menandingi buatan Jepang.
Dari sosok Bu Rita kita belajar bahwa kiprah perempuan dapat pada banyak hal. Di negara yang sudah akrab dengan gejala alam gempa bumi, tanah longsor dan tsunami ini, kita punya sosok perempuan siaga bencana dengan prestasi dan kiprah yang luar biasa tidak hanya bagi Indonesia namun juga dunia Internasional.
Prof. Dr. Ir. Oemi Hani’in Soeseno
Prof. Dr. Ir. Oemi Hani’in Soeseno lahir di Solo, 1 Januari 1931. Beliau merupakan satu-satunya mahasiswa perempuan yang berkuliah di Fakultas Kehutanan UGM pada awal berdiri. Beliau memperoleh gelar Insinyur Kehutanan pada tahun 1961 kemudian dikukuhkan sebagai guru besar bidang pemuliaan pohon hutan. Beliau mendapat gelar pejuang lingkungan yang menerima hadiah Kalpataru pada tahun 1989. Sepanjang hidup, Ibu Oemi mendedikasikan dirinya untuk pengembangan Hutan Wanagama.
“Pemuliaan pohon memang bukan bidang keilmuan yang menarik. Butuh waktu lama mengaplikasikan ilmunya, sehingga banyak orang tak tertarik. Namun, masa depan kehutanan Indonesia justru di pemuliaan pohon”. Ibu Oemi kepada Prof. Mohammad Na’iem (Na’iem, 2020: 5).
Berawal dari hibah ulat sutera (Bombyx mori) dari Dinas Kehutanan, Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada mulai aktif terlibat dalam pemecahan masalah lahan kritis Gunung Kidul. Pada tahun 1966, lahan seluas 10 Ha yang diberi nama Wanagama I di Gunung Kidul mulai dirintis hingga pada tahun 1982 lahan Wanagama mencapai luas 600 Ha. Ibu Oemi menyisihkan honornya sebagai pengajar untuk membiayai usaha pengembangan Wanagama. Beliau meninggalkan sejumlah warisan untuk Wanagama, yang kemudian dikelola menjadi Yayasan Oemi. Yayasan Oemi menjadi penggerak rimbawan Wanagama untuk membantu menghijaukan kembali hutan dan lahan kritis di Indonesia.
Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA.
Sobatmuse, hari ini kita akan membahas perempuan hebat yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya UGM, nih! Beliau adalah Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA, seorang dosen Sastra Perancis Fakultas Ilmu Budaya UGM. Beliau mendapatkan gelar master dari Universitas Gadjah Mada serta University of Geneva, Swiss. Di University of Geneva pula beliau menyelesaikan program Doktor dalam bidang Kajian Gender. Ibu Wening dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sastra dan Gender pada Fakultas Ilmu Budaya UGM dengan pidatonya berjudul Maskulinitas Transformatif: Kekerasan dan Subyek Yang Bergerak Dalam Dinamika Sastra dan Budaya (17 Februari 2022).
Riset-riset Beliau berfokus pada kajian sastra, gender, dan analisis wacana kritis. Beberapa karyanya, antara lain La Politique de l’Avortement Durant la Periode Post-Suhartoiste en Indonésie, dipublikasikan di Jurnal Mousson (Prancis) pada tahun 2012; Transgender in Indonesian Media: Negotiating the Self Project of Identity di Regional Journal of Southeast Asian Studies, diterbitkan pada tahun 2016; La Condition Féminine: Une Exception Indonésienne? dalam edited book L’Indonésie Contemporain di Paris diterbitkan oleh Irasec pada tahun 2016. Ibu Wening pernah menjabat sebagai Wakil Direktur Indonesian Consortium for Religious Studies (Konsorsium UGM, UIN Sunan Kalijaga, dan UKDW) 2009–2012; Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (2012–2016); Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (2016–2020); dan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran, Universitas Gadjah Mada (2021-2026).
Dra. Retno Lestari Priansasi Marsudi, LL.M.
Dra. Retno Lestari Priansasi Marsudi, LL.M. yang akrab disapa Retno Marsudi adalah wanita pertama di sepanjang sejarah (setelah kemerdekaan) Indonesia yang menjabat sebagai Diplomat RI untuk Kerajaan Belanda (2012-2015) dan Menteri Luar Negeri Indonesia (2014-saat ini). Sosok perempuan tangguh yang dijuluki sebagai “Lady Boss” ini merupakan alumni “Kampus Kerakyatan” jenjang S-1 Prodi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL).
Dari angan seorang Retno Kecil yang “ingin pergi ke luar negeri” saat menonton acara TV “Dunia dalam Berita”, mengantarkan Retno Marsudi menjadi seorang diplomat ulung yang berhasil membawa Indonesia menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB 2019 dan 2020, serta Anggota Dewan HAM PBB periode 2020 – 2022. Centre for Strategic and International Studies (CSIS) juga menyoroti capaian nilai diplomasi ekonomi Indonesia sebesar 98,32% dibawah kepemimpinan Retno Marsudi (2015).
Selama berkarier dan berkiprah di ranah diplomasi, kepiawaian seorang Retno Marsudi telah diapresiasi baik dalam kancah nasional maupun internasional. Beberapa penghargaan tersebut antara lain:
- Penghargaan Perlindungan Buruh Migran dari Serikat Buruh Migran Indonesia, 18 Desember 2017.
- Elle Style Awards 2018, kategori Outstanding Achievement, Oktober 2018.
- Penghargaan Tokoh Publik Terbaik, dari iNews Indonesia Awards 2018, 15 November 2018.
- Penghargaan Khusus untuk Pemimpin Diplomasi Kemanusiaan dari PKPU Human Initiative, 19 Desember 2018.
- The Order of Merit (Grand Officer – the Second Highest Decoration), Norwegia, Desember 2011.
- The Ridder Grootkruis di de Orde van Oranje-Nassau, Belanda, 12 Januari 2015.
- Penghargaan “Agen Perubahan” dari PBB untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women), 21 September 2017.
- “El Sol del Peru” (“Matahari Peru”), Peru, 24 Mei 2018. Malalai Medal of Honor from President Ashraf Ghani of Afghanistan, 1 Maret 2020.
Retno Marsudi telah membuktikan bahwa seorang perempuan adalah sosok yang tangguh dalam membangun karir yang cemerlang tanpa harus meninggalkan peran utamanya sebagai seorang ibu dan perempuan. “Saya selalu kasih encouragement ke teman-teman diplomat (perempuan) yang muda. Berat, iya. Tantangan besar, iya. Tapi, bisa!” – Retno Marsudi (Kompas.com, Januari 2021)
Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D.
Kartini hebat yang akan kita bahas kali ini memiliki kiprah besar dalam isu-isu budaya, pariwisata dan pembangunan di Indonesia. Beliau bernama Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M. Arch., Ph.D. Prof. Wiendu memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian kebudayaan Indonesia, khususnya melalui pariwisata. Beliau banyak terlibat di Departemen Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dalam memberikan pelatihan, kursus, seminar dan lokakarya untuk memajukan pariwisata dan kebudayaan di Indonesia. Kemudian berkat kiprahnya, pada tahun 2002 beliau mendapat penghargaan Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI. Berkat kiprah beliau, pada tahun 2011-2014 Prof. Wiendu ditunjuk untuk menjabat sebagai Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia bidang Kebudayaan.
Prof. Wiendu dikenal aktif dalam usaha memajukan pariwisata dan kebudayaan di Indonesia melalui dunia perkuliahan. Pada tahun 2005, Bu Wiendu mendirikan serta menjadi Direktur Eksekutif dari Program Magister Perencanaan Pariwisata (MPAR) di UGM hingga 2011. Pada saat itu MPAR merupakan satu-satunya program pascasarjana tingkat dalam perencanaan pariwisata di Indonesia. Saat ini beliau menjabat sebagai ketua International Center for Culture and Tourism (ICCT).
“Tidak berlebihan jika saya katakan Indonesia negara adidaya di bidang kebudayaan. Kita wajib bangga untuk itu,” (Wiendu Nuryanti, Harian Nasional 2013). Prof. Wiendu dapat menginspirasi kita semua untuk berkarya dan mengabdi kepada negara sesuai dengan passion yang kita miliki.
Prof. Dra. Raden Ajeng Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D.
Prof. Dra. Raden Ajeng Yayi Suryo Prabandari, M.Si, Ph.D. adalah seorang dosen di Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM. Beliau memiliki latar belakang pendidikan S-1 Psikologi dan S-2 Psikologi Klinis UGM, serta S-3 Kedokteran Komunitas di Universitas Newcastle, Australia. Ibu Yayi yang berlatar belakang psikologi dapat menjadi professor dari Fakultas Kedokteran.
Beliau menjadi salah satu tokoh wanita UGM yang mempromosikan kesehatan termasuk kampanye untuk berhenti merokok. Juga, Ibu Yayi aktif melakukan penelitian dalam bidang perilaku merokok, hal ini dibuktikan dengan ia menjadi ketua tim peneliti Quit Tobacco Indonesia Fakultas Kedokteran. Salah satu usahanya adalah memberantas mengenai hoax di media sosial yang mengklaim bahwa perokok berat dapat menghalangi virus covid karena terhalang oleh nikotin. Beliau memberikan pemahaman bahwa rokok justru dapat menyebabkan seseorang rentan terhadap serangan virus, bakteri dan penyakit lainnya.
Jadi SobatMuse, yuk kita dukung kampanye Ibu Yayi. Hidup sehat dan bahagia dimulai dari hidup tanpa asap rokok yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Serta selalu jadikan museum sebagai tempat bebas asap rokok ya!
Lasiyah Soetanto
Lasiyah Soetanto merupakan seorang putri bangsa kelahiran Bantul, 13 Agustus 1924. Beliau merupakan alumni Fakultas Hukum UGM pada tahun 1962. Karir beliau diawali menjadi guru seperti di Christelijke Schakel School di Wonogiri tahun 1941, Neutral School di Yogyakarta, SMP Puro Pakualaman, SGA Stella Duce, dan SMA Bopkri. Sejak berkuliah di UGM, beliau juga menjadi Asisten Dosen Riset Hukum Adat UGM. Setelah lulus pada tahun 1962, beliau juga menjadi dosen Bahasa Prancis FKIP, Dosen Fakultas Sastra UGM, dan Universitas Atmajaya. Pada tahun 1972, beliau memperoleh gelar Diploma de Sorbonne Trois, Paris, Perancis.
Ibu Lasiyah Soentanto merupakan Menteri Muda Urusan Peranan Wanita pertama Indonesia yang menjabat pada tahun 1978-1983. Kemudian dilanjutkan pada tahun 1983-1987 beliau menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita. Sebelum menjabat menjadi Menteri, beliau juga sempat duduk sebagai anggota MPR/DPR-RI. Pada saat itu, Lasiyah Soetanto menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Kongres Wanita Indonesia (DPP Kowani).
Beliau pantas dijuluki sebagai guru perempuan Indonesia karena keteladanannya dalam mendorong perempuan Indonesia untuk berperan dalam berbagai profesi dan kegiatan pembangunan, sekaligus tetap melaksanakan tugas utamanya sebagai seorang ibu sesuai dengan kodratnya. Baginya, itulah makna emansipasi wanita ala Indonesia.
Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH, Ph.D.
Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc., MPH, Ph.D atau kerap disapa dengan Prof. Uut merupakan lulusan Fakultas Kedokteran UGM tahun 1989. Beliau menjadi dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat UGM (sekarang Departemen Kebijakan dan Managemen Kesehatan). Kemudian melanjutkan pedidikan Pascasarjana di Centre for International Child Health, University of College London, Inggris, dan Master of Public Health, serta mendapat gelar Doctor of Philosophy di Umea University, Swedia. Beliau diangkat menjadi Guru Besar UGM pada tahun 2011.
Fokus penelitian Prof. Uut yaitu di bidang pengendalian penyakit menular, terutama penyakit Tuberkulosis,serta kebijakan-manajemen mutu layanan kesehatan. Beliau berhasil menempati peringkat ke-311 peneliti terbaik Indonesia di semua bidang yang diterbitkan oleh Webometrics 2017. Pada saat itu, Prof. Uut menerbitkan karyanya pada lebih dari 30 Jurnal Kesehatan Internasional.
Sejak tahun 2013, Prof. Uut melakukan penelitian bersama timnya dalam World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta. Pada tahun 2016 hingga tahun 2017, WMP menyerahkan 7000 ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia di beberapa kelurahan yang kemudian dimonitor selama beberapa waktu. Dari penyebaran nyamuk ber-Wolbachia tahap pertama, ditemukan bahwa nyamuk tersebut mampu bertahan dengan jumlah yang tinggi dalam populasi dan tetap konsisten. Program ini berhasil menekan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta sebesar 77%.
Prof. Uut masuk dalam daftar Ten People Who Helped Shape Science in 2020 menurut jurnal Nature. Nature menyebut Prof Uut sebagai mosquito commander atau komandan nyamuk. Beliau juga masuk dalam daftar 100 orang berpengaruh tahun 2021 versi Majalah TIME.Melansir dari majalah TIME, prestasi Prof Uut bermula dari usahanya meyakinkan masyarakat di lokasi penelitiannya untuk melepaskan sekawanan nyamuk di lingkungan mereka. Usahanya berbuah manis, ia dan anggota timnya membawa trobosan baru yang dapat dirasakan jutaan orang di seluruh dunia dalam memerangi demam berdarah.
Selain bidang akademik, Prof Uut juga menekuni bidang musik, khususnya sebagai pianis. Beberapa konser musik yang telah diselenggarakan antara lain konser amal Life, Passion, and Music (Mei 2018), konser amal Sedjiwa Setjinta (Oktober 2018), serta home concerts.
Prof. Dr. Inajati Adrisijanti
Halo Sobatmuse, kali ini kita akan membahas perempuan hebat dalam Ilmu Purbakala dan Arkeologi. Beliau bernama Prof. Dr. Inajati Adrisijanti atau yang sering disapa dengan nama Ibu Poppy, lahir di Yogyakarta, 20 Oktober 1945. Beliau merupakan lulusan Arkeologi UGM pada tahun 1973. Pada saat berkuliah, beliau sempat menjadi mahasiswa pembantu jurusan Arkeologi UGM. Kemudian setelah lulus, beliau menjadi dosen Jurusan Arkeologi UGM. Pada tahun 1979-1980, beliau melanjutkan pendidikan Arkeologi di Rijksuniversiteit Leiden. Kemudian pada tahun 1997, beliau menyelesaikan Pendidikan Doktoral di Arkeologi UGM.
Berawal dari kegiatan bersepeda rutin 2x sebulan berkeliling Yogyakarta hingga Candi Borobudur, mengenalkan semakin dalam warisan budaya kepada seorang Poppy remaja. Siapa sangka kegiatan bersepeda untuk meninjau jalur dari situs ke situs memupuk kecintaannya terhadap tinggalan budaya. Hal inilah yang kemudian memantapkan keinginan seorang Ibu Poppy untuk memperdalam “Ilmu Purbakala” di Universitas Gadjah Mada.
Ibu Poppy adalah seorang Profesor Arkeologi yang memiliki fokus kajian ilmu Arkeologi Islam dan Perkotaan. Lewat penelitian disertasi beliau yang berjudul “Arkeologi Perkotaan Mataram Islam”, beliau mengungkap kepada khalayak untuk pertama kalinya nilai penting Kotagede sebagai pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Islam. Hasil penelitian tersebut kemudian seakan “membuka pintu” yang telah lama tertutup bagi perkembangan penelitian kajian kota-kota kuno di Indonesia.
Selain meneliti tentang Arkeologi Islam dan Perkotaan, Ibu Poppy pernah menjadi salah satu orang yang terlibat dalam pemugaran candi Sambisari (Yogyakarta) dan Percandian Prambanan pasca gempa 2006. Beliau juga memiliki karya ilmiah diantaranya yaitu: ·“Coastal Ornamental Patterns around the 16th Century: A Study on Cultural Interaction”; ·Seminar Internasional UNESCO: “Harbour Cities along the Silk Roads” (1991); dan ·“Disaster Presvention Measures for Stone Built Heritage in Indonesia: Damage to Prambanan Temple Compounds by Central Java Earthquake” di Nara, Jepang (2008). Dalam kiprahnya sebagai dosen dan Arkeolog, beliau pernah menjabah sebagai Sekretaris Jurusan UGM, Ketua Jurusan Arkeologi, pengelola S2 Arkeologi UGM, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) DIY, dan Anggota TACB Nasional tahun 2019.
“Masa depan kajian mengenai cagar budaya di Indonesia masih terbuka lebar. Jika bukan kita, siapa lagi yang akan mengungkap cerita di balik keberadaan cagar budaya yang tersebar luas dari Sabang sampai Merauke?” -Ibu Poppy